Lewati navigasi

Sudah fitrahnya manusia menjadi makhluk yang cenderung perfeksionis; yakni selalu menginginkan & mendambakan sesuatu yang sempurna, maksimal, optimal dan ideal dalam kehidupannya,baik secara personal maupun komunal.Idealitas yang dimaksud disini tentunya yg signifikan dengan nilai-nilai akal sehat manusia yang pahami secara general, misalnya kebenaran, kejujuran, keadilan dan sebagainya.

Bagi bangsa Indonesia, sesuatu yg ideal itu tak lain adalah apa yang telah menjadi cita-cita republik ini sejak berdiri sebagai bangsa & negara yg merdeka dan berdaulat: yaitu menjadi bangsa yang makmur dalam keadilan & adil dalam kemakmuran. Artinya,dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa, sesuatu yg ideal itu mungkin dapat kita gambarkan sebagai suatu potrat situasi & kondisi bangsa yang makmur sejahtera, penuh keadilan, transparansi, bersih dan mempunyai wibawa di mata dunia.Tapi bila kita saksikan realitanya sungguh bertolak belakang. Artinya hal-ikhawal keidealan itu sama sekali belum terwujud di negri ini.

Secara praksis, untuk mewujudkan sesuatu yg ideal itu pastinya hanya bisa di lakukan oleh orang-orang yang memiliki idealisme di dadanya, dan ia berani mengekspresikan idealismenya tersebut.

Tapi sungguh ironis dan menyedihkan, di zaman sekarang ini, di negeri ini, sepertinya menjadi seorang idealis bukanlah sebuah pilihan tepat, strategis dan menguntungkan untuk dijadikan sebagai sikap, ideologi dan prinsip hidup, terutama bila dikalkulasikan dlm konteks pragmatisme ekonomi dan politik. Artinya, kalau ada yang “nekat” ingin menjadi seorang idealis, berarti ia sudah siap untuk kemudian “tidak kebagian”, di cap tak realistik, dituduh soq suci dsb. Bahkan yg lebih ekstim lagi, tak jarang seorang idealis di tuduh sebagai oposan, subversif, aliran kiri, kaum radikal-fundamentalis dan lain-lain sebagainya.

Di negeri ini, selama ini, sebenarnya bukannya tidak ada orang-orang idealis. Ada dan selalu ada. Tapi jumlahnya adalah segelintir dari total jumlah anak bangsa yg nota-bene lebih banyak memilih jadi apatis dan oportunis. Memprihatinkan memang…..Apa mungkin bangsa ini akan mampu bangkit dari keterpurukan ini jika kebanyan warganya masih bermental egois ? Tidaaak !!!!!!! Itu tidak mungkin. “Indonesia Baru” yg kita impikan akan tetap jadi sekedar mimpi utopis yg mustahil bisa di konversi jadi kenyataan.

Sungguh dilematis memang……tapi ini adalah kenyataan yg tak dapat kita pungkiri……….sampai detik ini seorang “idealis” belum bisa dihargai secara semestinya di republik ini !!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.