Lewati navigasi

Jika kau tak berani lagi bertanya

kau akan jadi korban keputusan-keputusan

jangan kau penjarakan ucapanmu

karna jika kita menghamba kepada ketakutan

berarti kita telah memperpajang barisan perbudakan !!!

Wiji Thukul, seorang aktivis

Iklan

luka tanpa
darah pedihnya
sangat

cinta tanpa
rindu geloranya
kurang

pasti tanpa
tapi berarti
mati

ekspresi tanpa
emosi persis
batu

puisi tanpa
tafsir jadinya
dogma

Secara general, lazimnya orang mengenal “tangan kiri” itu sebagai “tangan untuk cebok“,makanya mungkin stigma dan citra tangan kiri itu begitu minor dan tidak dihargai oleh kebanyakan orang. Adalah sungguh tabu dan tidak etis bila seseorang mempergunakan tangan kiri itu untuk aktivitas seperti makan, salaman, menunjuk, menghormat, dsb.Itu secara kultural sudah tugasnya tangan kanan…………..sekali lagi, tangan kiri itu tugasnya cuma untuk “nyebok”.Namun……sedemi hinakah eksistensi tangan kiri ??

Menurutku tidak !! Sesungguhnya eksistensi tangan- kiri mestinya tak sehina itu. Bahkan kalau mau jujur, secara objektif sebenarnya tangan- kiri itu tidak kalah mulia dibanding tangan kanan. Secara tradisi memang fungsi populer tangan- kiri itu adalah sebagai tangan untuk nyebok…….tapi aku pikir itu bukan tugas yg hina. Justru itu tugas mulia yg secara eksklusif cuma bisa dikerjakan secara ikhlas oleh tangan- kiri, bahkan saya yakin tangan -kanan sendiri tidak akan pernah punya nyali untuk mengerjakannya. Coba cermati, pernahkah tangan kirimu malu atau ragu untuk melaksanakan tugasnya membersihkan setiap kotoran yang keluar dari lobang duburmu ? Pada hal kita tahu bahwa seluruh kotoran itu adalah sebenarnya “limbah” dari apa yang di makan oleh tangan kanan…………bahkan parahnya lagi kita tahu bahwa makanan yang didapatkan oleh tangan kanan itu tidak selalu dengan cara yg halal alias haram.

Lantas, tiba-tiba dari benak kiriku munyumbul pertanyaan kontroversial:” Mungkinkah disuatu saat nanti tangan-kiri akan diberi kesempatan & kepercayaan oleh manusia untuk mengerjakan tugas-tugas mulia yg biasanya di kerjakan tangan-kanan ??? Dan mungkinkah pula suatu waktu nanti tangan-kanan yg soq suci itu akan punya nyali menggantikan tugas tangan-kiri sebagai “tangan untuk nyebok” ?????”

  • Aku mencintaimu…”, itulah sebuah “kekeliruan” yg tak pernah kusesali.

  • Kau boleh katakan kau tak mencintaiku. Tapi kau gak berhak melarangku tuk bilang “aku cinta kamu..”

  • Jujur kukatakan aku tak cinta kamu. Tapi bohong kukatakan aku benci kamu….

  • Kasih…….jangan bahagiakan aku dengan “kebohonganmu“. Tapi sakitilah aku dengan “kejujuranmu“.

  • CINTA………sering kali aku tak berdaya dibuatnya.

  • Ketika engkau nyatakan cintamu pada seseorang, ada satu hal ya mesti kau sadari……bahwa ada kemungkinan suatu saat kau akan disakiti.

Di bawah ini adalah sederet aporisma tentang KEBENANAR yg merupakan buah dari ikhtiar-kontemplatifku:

  • Tentang KEBENARAN, dari pada saya masih ragu lebih baik aku bilang tidak tahu.
  • Tak perlu ada justifikasi untuk mengukuhkan sebuah “KEBENARAN sejati”. Karena biasanya yg butuh just fikasi itu justru adalah “KEBENARAN semu”.


  • KEBENARAN secara absolut bukan berarti “baik“. Begitu juga “kebaikan”, secara absolut belum pasti “benar”. Namun dari relativitas itu dapat ditarik sebuah kesimpulan aksiomatik ; bahwa “benarnyakebaikan” adalah “keadilan”, sedangkan “baiknyakebenaran” adalah “kejujuran”.
  • Sesungguhnya kualitas sebuah KEBENARAN itu tidak ada kaitannya dengan sumber dari mana, dari siapa dan kapan kau mendapatkan KEBENARAN itu. Justeru yang paling menentukan adalah “bagaimana cara” mu mendapatkan KEBENARAN itu.
  • Jangan biasakan cuma melulu menerima & menanti KEBENARAN, tapi selalu carilah KEBENARAN itu.
  • KEBENARAN mungkin bisa saja dimanipulasi, didistorsi atau dipungkiri, tapi aku yakin tidak bisa “dibuat mati”.

Dalam kehidupan ini, sering kali kita mengaku “eksis”, tapi kenyataanya kita tak punya “eksistensi”. Kita selalu menganggap diri kita “ada”, tapi kenyataanya orang lain melihat kita “tak ada apa-apanya”. Mengapa ini bisa terjadi??? Jawabannya karna itu adalah “pilihan” kita. Kita lebih memilih “pasrah” dalam status-quo kita yg memprihatinkan & jelas-jelas sangat bertolak belakang dengan hati-nurani kita, ketimbang kita berani menentukan sikap untuk menolak dan melawan kenyataan itu. Tragisnya lagi, kita sangat menyadari kenyataan itu. Kita sangat sadar kita sudah di tipu, dikhianati, dikibiri, ditindas………namun anehnya sikap kita justru memperlihatkan kesan bahwa kita seolah-olah tak mengalaminya. Ini sungguh kemunafikan yg sangat naif, ketika kemunkaran, kesewenang-wenangan dan ketidak adilan merajalela di sekeliling kita, kita cuma bisa bersikap apatis dan diam, pada hal kita sendiri juga termasuk korban.

“TAKUT”.…..itulah yg menjadi penyebab kita menjadi pengecut dan cemen, sehingga kemudian kita besikap fatalistik selama ini. Kalau dulu, zaman orba, ketakutan kita mungkin masih bisa dimaklumi, karna memang yg akan di hadapi jika jadi oposan adalah rezim penguasa yg zalim, resikonya nyawa bisa menghilang. Namun yang ironis adalah zaman sekarang, di saat tak ada lagi tirani yg berkuasa kita masih saja takut……………..Tapi

ketakutan sekarang ini bukan lagi takut kehilangan nyawa…………melainkan takut “tak kebagian”, takut “dikucilkan”, “takut kehilangan jabatan” dan sebagainya, pokoknya takut yg didasari pragmatisme-egoistik.

Wahai kawan……..akankah kenyataan ini akan terus kita jalani ? Tidakkah ada terbersit dihatimu sedikit keinginan untuk merubah keadaan ini ? Atau jangan-jangan kita memang bahagia menikmatinya ?
Hanya ada satu kata: " L A W A N  !!!! "
Kalau aku yang di tanya, pasti aku akan jawab: “Aku tak ikhlas & tak mau diperlakukan terus seperti ini, aku akan melawan……melawan……melawan……karena aku punya prinsip AKU MEMBERONTAK, MAKANYA AKU ADA !!!! Bagai mana dengan anda ????

suatu ketika
di sini dulu
pernah kucium
aroma wangi bunga
: cinta

suatu ketika
di sini kini
justru kucium
aroma amis darah
: luka

suatu ketika
di sini nanti
semoga kucium
aroma lembut cahaya
:Nya


Bintan, medio Agustus 2009

Sudah fitrahnya manusia menjadi makhluk yang cenderung perfeksionis; yakni selalu menginginkan & mendambakan sesuatu yang sempurna, maksimal, optimal dan ideal dalam kehidupannya,baik secara personal maupun komunal.Idealitas yang dimaksud disini tentunya yg signifikan dengan nilai-nilai akal sehat manusia yang pahami secara general, misalnya kebenaran, kejujuran, keadilan dan sebagainya.

Bagi bangsa Indonesia, sesuatu yg ideal itu tak lain adalah apa yang telah menjadi cita-cita republik ini sejak berdiri sebagai bangsa & negara yg merdeka dan berdaulat: yaitu menjadi bangsa yang makmur dalam keadilan & adil dalam kemakmuran. Artinya,dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa, sesuatu yg ideal itu mungkin dapat kita gambarkan sebagai suatu potrat situasi & kondisi bangsa yang makmur sejahtera, penuh keadilan, transparansi, bersih dan mempunyai wibawa di mata dunia.Tapi bila kita saksikan realitanya sungguh bertolak belakang. Artinya hal-ikhawal keidealan itu sama sekali belum terwujud di negri ini.

Secara praksis, untuk mewujudkan sesuatu yg ideal itu pastinya hanya bisa di lakukan oleh orang-orang yang memiliki idealisme di dadanya, dan ia berani mengekspresikan idealismenya tersebut.

Tapi sungguh ironis dan menyedihkan, di zaman sekarang ini, di negeri ini, sepertinya menjadi seorang idealis bukanlah sebuah pilihan tepat, strategis dan menguntungkan untuk dijadikan sebagai sikap, ideologi dan prinsip hidup, terutama bila dikalkulasikan dlm konteks pragmatisme ekonomi dan politik. Artinya, kalau ada yang “nekat” ingin menjadi seorang idealis, berarti ia sudah siap untuk kemudian “tidak kebagian”, di cap tak realistik, dituduh soq suci dsb. Bahkan yg lebih ekstim lagi, tak jarang seorang idealis di tuduh sebagai oposan, subversif, aliran kiri, kaum radikal-fundamentalis dan lain-lain sebagainya.

Di negeri ini, selama ini, sebenarnya bukannya tidak ada orang-orang idealis. Ada dan selalu ada. Tapi jumlahnya adalah segelintir dari total jumlah anak bangsa yg nota-bene lebih banyak memilih jadi apatis dan oportunis. Memprihatinkan memang…..Apa mungkin bangsa ini akan mampu bangkit dari keterpurukan ini jika kebanyan warganya masih bermental egois ? Tidaaak !!!!!!! Itu tidak mungkin. “Indonesia Baru” yg kita impikan akan tetap jadi sekedar mimpi utopis yg mustahil bisa di konversi jadi kenyataan.

Sungguh dilematis memang……tapi ini adalah kenyataan yg tak dapat kita pungkiri……….sampai detik ini seorang “idealis” belum bisa dihargai secara semestinya di republik ini !!!!


adalah kau malaikat yang kerap
asah pisau nuraniku
adalah kau iblis yang melulu
provokasi nafsu imajinasiku
adalah kau sufi yang selalu
taburi benih kearifan
di taman logikaku

setelah masa laluku tuntas
kau rampas
akankah juga masa depanku mutlak
kau rampok ?

* sajak ini kupersembahkan kepada istri dan ketiga anakku.